Archive for June, 2010

Ketika Pola Asuh Orangtua Berbeda

Kamis, 3 Juni 2010 – 14:14 wib

text TEXT SIZE :  
// Share

POLA asuh anak sangat berperan penting bagi perkembangan kepribadian anak saat dewasa kelak. Namun, apa jadinya apabila ayah dan ibu memiliki gaya mendidik yang berbeda, bahkan bertolak belakang?

Diakui, ketika gaya pengasuhan Anda berbeda dengan pasangan Anda, ketegangan sudah pasti akan tinggi. Ambil contoh cerita Leigh Henry, 37, seorang ibu dari San Antonio,Texas, Amerika Serikat. Leigh mengaku tidak selalu setuju dengan tindakan suaminya, Ryan, 37, tentang cara terbaik bagaimana mendidik balita mereka.

Ryan yang berprofesi sebagai pengacara, selalu melancarkan “gertak sambal” saat anaknya berbuat tidak sesuai keinginannya.“

Suami saya akan mengancam untuk tidak membawa anak kami jalan-jalan jika dia tidak berperilaku baik, bahkan meninggalkan si kecil di toko. Tetapi, dia tidak benarbenar melakukannya. Dia percaya dengan cara itu karena memang seperti itu dia dibesarkan keluarganya,” terang Leigh.

Leigh yang hanya seorang ibu rumah tangga, sebaliknya percaya dengan sebuah konsekuensi jika melakukan sesuatu dan tidak suka dengan cara mengancam dengan meninggalkan anak begitu saja di tempat umum.

Dilema yang dihadapi Leigh dan Ryan memang tidak biasa.Saat ini mulai banyak pasangan suamiistri yang berbeda cara pandang dalam membesarkan anak mereka.

“Saya melihat, sebagian besar pasangan memang memiliki perbedaan dalam gaya pengasuhan anak,” ujar Barbara Frazier MSW, seorang pekerja sosial berlisensi klinis dan terapis anak di Gainesville, Florida, Amerika Serikat.

“Ini benar-benar masalah, karena betapa mencoloknya perbedaan gaya antara keduanya,” kata Frazier, yang juga mendirikan situs The Successful Parent.

Pakar perkembangan anak membagi gaya pengasuhan menjadi tiga kategori. Pertama, otoriter, yaitu pola orangtua dalam mendidik anak yang menekankan ketaatan atau kepatuhan.

Orangtua cenderung memberlakukan peraturanperaturan yang ketat dan menuntut agar peraturan-peraturan itu dipatuhi yang kadang tanpa ada penjelasan kepada anak. Kedua, permisif, yang memberikan sejumlah pedoman perilaku kepada anak, tetapi orangtua tidak mau anak mereka marah.

Secara umum, orangtua permisif berusaha menerima dan mendidik anak sebaik mungkin, tetapi mereka cenderung sangat pasif ketika sampai pada masalah penetapan batas-batas atau menanggapi ketidakpatuhan.

Dan terakhir, otoritatif, yang berusaha menyeimbangkan antara membimbing dengan batas-batas yang jelas, namun tidak terlihat seperti mengatur.

Orangtua memberi penjelasan tentang apa yang anak mereka lakukan serta membolehkan mereka untuk memberi masukan dalam pengambilan keputusan-keputusan penting.

Sebenarnya, pola asuh berbeda antara ayah dan ibu itu wajar karena peran keduanya dalam keluarga juga beda. Peran ayah adalah sebagai pencari nafkah, pelindung, dan pengayom keluarga sehingga diharapkan bisa bersikap tegas, bijaksana, mengasihi keluarganya, namun tetap berpartisipasi dalam masalah pengasuhan dan pendidikan anak.

Sedangkan ibu lebih berperan sebagai orang yang bisa memenuhi kebutuhan anak, merawat keluarga dengan sabar, mesra, dan konsisten, mendidik, mengatur, dan mengendalikan anak sehingga diharapkan ibu bisa menjadi contoh dan teladan bagi anak.

Tapi, semua itu tidak bisa digeneralisasi alias bersifat kontekstual, semua itu harus disesuaikan kembali dengan karakter, komitmen, dan tujuan ayah dan ibu dalam membentuk keluarga dan anak-anaknya di masa depan.

Idealnya, kedua orangtua memiliki gaya otoritatif karena pola inilah yang menumbuhkan hubungan sehat antara orangtua dan anak.

“Apa yang membuat perbedaan dalam gaya pengasuhan, khususnya yang sangat bertolak belakang karena muncul kekuatan yang sebagian besar sifatnya ‘tidak sadar’,” kata Frazier.

“Kebanyakan pasangan muda belajar mendidik anak dari orangtua mereka. Dan beberapa cara terlihat berhasil dijalankan kepada anak, seperti apa yang orangtua mereka lakukan. Namun, banyak juga pasangan yang bertindak lebih tepat dibanding para orangtua mereka lakukan,” lanjutnya.

“Menjalankan pola pengasuhan yang berbeda (dengan orangtua) dapat menjadi hal yang baik,” terang Frazier.

“Tentu selama gaya mendidiknya tidak terlalu jauh menyimpang. Ini memberikan pandangan yang lebih luas kepada anak soal nilai kedewasaan dan kesempatan untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan orangtua. Selama orangtua datang dengan rasa persatuan, itu sehat,” imbuhnya.

Akhirnya, Frazier menyarankan bagi orangtua yang untuk mendapatkan konseling dari seorang terapis profesional.

Diharapkan sejumlah usulan dan masukan dari pihak ketiga dapat membantu ayah dan ibu untuk menyesuaikan pengasuhan anak bagaimana yang terbaik bagi anak mereka serta cara menangani perbedaan pendapat yang sehat.

Selain itu, usahakan anak tidak ikut campur di dalamnya. Atau bahkan meminta mereka untuk berpihak kepada ayah atau ibu.

“Bertengkar di depan anak adalah sangat merusak (diri anak),” tandas Frazier.

Setidaknya, persoalan setuju untuk tidak setuju bisa dibicarakan kemudian, ketika anak-anak sudah menjauh dari jangkauan orangtua.

Berikut ini ada beberapa hal yang menurut saya sangat penting untuk ditanamkan pada anak sejak dini, yang biasanya dikenal dengan “four magic words” yaitu:
* tolong
* terima kasih
* maaf
* permisi

1. Tolong
Kata ‘tolong’ ini kita ucapkan apabila kita ingin meminta bantuan. Hal ini kadang dilupakan anak-anak, kadang anak-anak asal menyuruh saja. Sebaiknya dibimbing agar anak mengucapkan dengan benar, apabila ingin minta bantuan seseorang hendaknya mengucapkan tolong, bahkan kepada pembantu sekalipun. Misalnya, “Bibi tolong ambilkan mainan!”. Hal ini tentu akan lebih sopan, lebih santun, lebih enak di dengar bila dibandingkan dengan “Bibi, ambilkan mainan!”

2. Terima kasih
Kata ‘terima kasih’ biasanya dikatakan setelah kita menerima sesuatu (bisa berupa benda atau bentuk jasa/bantuan) dari orang lain. Ucapkan terima kasih dengan tersenyum dan menatap yang diajak bicara. Anak-anak kadang lucu, bilang terima kasih tapi sambil pergi atau lari, atau sambil menunduk tidak berani menatap orang yang diajak bicara, mungkin karena malu. Namanya juga anak-anak…

3. Maaf
Yang berbuat salah haruslah berani meminta maaf. Melihat anak-anak kadang ada yang takut untuk meminta maaf, padahal sudah ingin main bersama lagi. Kalau tidak diajarkan meminta maaf, anak akan terbiasa hingga dewasa kelak. Yang lebih parah lagi, ketika anak-anak kita sudah saling memaafkan, sudah main bersama lagi, eh…orang tuanya yang masih marahan. Itu jelas tidak baik. Jangan mencampur urusan anak-anak dengan urusan orang tua. Anak-anak punya cara tersendiri untuk menyelesaikan masalah mereka.

Sebagai contoh, suatu sore setelah selesai pekerjaan di dapur, Salma datang padaku dan terjadilah percakapan singkat sebagai berikut:

Salma: “Ma, tadi Salma marah sama Mas”.
Saya: “Loh, kenapa adik marah?”
Salma: “Mas nakal, minta mainan Salma”.

Aku tersenyum saja, ternyata Salma bisa menyelesaikan masalahnya ketika marah sama kakaknya, bukan saat itu juga mengadu ke saya, tapi menyelesaikannya sendiri dan sudah main bersama lagi. Salma cerita ke saya setelah selesai mainnya.

4. Permisi
Hal ini biasanya dilakukan untuk meminta ijin. Misalnya ketika mau masuk ke kamar orang tuanya, harus mengetuk pintu, bilang, “Permisi, adik boleh masuk?”.
Atau permisi, boleh pinjam mainan yang itu?

Umumnya, kolik menimpa bayi usia dua minggu hingga menghilang di usia 2-3 bulan dan terjadi terutama di senja hari (late afternoon). Kita bisa membedakan kolik ini dari tangisan biasa. Yaitu, ketika menangis, bayi biasanya menunjukkan ekspresi gelisah dan mukanya memerah. Tangisnya pun keras hingga tangannya mengepal, dan tubuh serta lututnya terangkat ke atas.

Cara menolong bayi kolik, yaitu

1. Ketahuilah jumlah tangis bayi
Pada minggu pertama, total lamanya bayi menangis rata-rata 2 jam per hari. Pada minggu ke-6, total mencapai 3 jam. Setelah 3 bulan, lama total tangisnya turun lagi sebanyak 1 jam.

2. Kenali penyebab bayi menangis.
Biasanya bayi menangis karena lapar, haus, popoknya basah, demam, suara berisik/gaduh, lelah atau keadaan lain dimana bayi merasa tidak nyaman. Ada juga bayi menangis karena sakit, infeksi, radang tenggorokan dan sebagainya. Kolik terjadi karena gangguan pencernaan dan rasa tak nyaman.

3. Atasi berdasarkan penyebabnya.
Bisa dengan mengoleskan minyak telon pada perut bayi. Usahakan bayi bisa kentut atau bahkan bisa buang air besar sehingga perutnya jadi enteng dan tidak melilit.

Berikan ASI untuk mencegah kolik. Apabila bayi minum susu formula, berikan dengan porsi sedikit tapi sering. Pastikan lubang dot botol susu sudah sesuai ukurannya dan dot yang masuk ke mulut bayi selalu dalam keadaan penuh untuk mencegah bayi menelan terlalu banyak udara sewaktu minum. Terlalu banyak menelan udara juga bisa menyebabkan kembung di perut yang berujung pada kolik. Itulah sebabnya, penting untuk mengusahakan bayi bersendawa setiap kali habis menyusu guna mencegah berkumpulnya udara di perut. Bayi juga tak boleh dibiarkan sampai terlalu lapar atau harus menunggu lama untuk minum ASI/susu.

Apabila langkah-langkah di atas sudah dilakukan namun belum juga sembuh, bawalah ke dokter.
Ciptakanlah suasana yang tenang, periksa suhu kamarnya. Usahakan orang tua secara bergantian menjaga bayi agar ibu tidak kelelahan.
Bayi yang bisa tidur atau beristirahat dengan enak, umumnya jarang kena kolik. Bisa juga diperdengarkan musik-musik lembut.
Cara paling efektif adalah dengan dekapan ibu yang hangat dan menenangkan. Bisa sambil mendendangkan lagu, atau ditepuk-tepuk penuh kasih sayang.

Dengan semakin pintar orang tua di saat ini, kasus kolik ini sudah makin jarang terjadi. Berikan makanan pada bayi pada usia 6 bulan, jangan terburu-buru memberikan makanan tambahan. Satu lagi, bayi yang diberikan ASI ekslusif akan lebih jarang terkena serangan kolik daripada bayi yang diberikan susu formula.

Semoga bermanfaat!